Minggu, 02 Februari 2020

Panduan Wisata Liburan ke Lasem, Destinasi Berjuluk 'Tiongkok Kecil' di Kabupaten Rembang

   
tempat-foto-instagramable-di-lasem-rembang-jawa-tengah_20180910_154854.jpg
Tempat foto Instagramable di Lasem, Rembang, Jawa Tengah - Instagram @rizarastri - Instagram @yunitapoet
TRIBUNTRAVEL.COM - Siapa tak kenal Lasem, sebuah kecamatan yang punya keindahan alam eksotik di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.
Terletak di pesisir utara Jawa, Lasem yang dijuluki 'Tiongkok Kecil' ini punya sejarah panjang, budaya dan etnis yang sangat unik.
Jika berkunjung ke Lasem, kamu akan disambut dengan rumah-rumah dan bangunan kuno di kawasan Pecinan Lasem yang membuatmu ingin berhenti untuk berfoto.
Transportasi menju Lasem pun terbilang cukup mudah.
Kamu bisa memulai perjalanan dari Semarang sekitar 4 jam dengan menggunakan bus.
Pilih bus jurusan Surabaya dari Terminal Terboyo, Semarang.
Tarif bus dari Semarang ke Lasem pun beragam, mulai dari Rp 30 ribuan.
1. Destinasi wisata Lasem
Di Lasem, ada banyak obyek wisata yang bisa dikunjungi.
Mulai dari Desa Karang Turi, Klenteng Cu Ang Kiong, Klenteng Po An Bio, Klenteng Gie Yong Bio, Pantai Caruban, hingga tambak garam Desa Dasun.
Di Lasem, wisatawan bisa melihat arsitektur bangunan unik dan instagram-able.
Di Desa Karangturi, Lasem misalnya, kamu bisa menemukan berbagai bangunan bergaya India-Cina.
Pintu rumahnya berbahan kayu dan penuh ukiran, sementara arsitektur atap berbentuk ekor walet dan tiang-tiang penyangga bangunan besar.
2. Akomodasi di Lasem
Guest House Tiongkok Kecil, Lasem (Traveloka)
Sebagai destinasi wisata favorit di utara Jawa, ada banyak penginapan yang bisa kamu jadikan tempat istirahat selama berkunjung ke Lasem.
Bangunan-bangunan penginapan di Lasem pun sangat unik.
Homestay Tiongkok Kecil Heritage dan Guest House Nyah Lasem adalah rekomendasi tempat singgah selama berwisata di Lasem jika kamu ingin merasakan suasana Lasem tempo dulu.
3. Kuliner Lasem
Seporsi kuliner Lontong Tuyuhan tersaji di meja Sentra Kuliner Lontong Tuyuhan di Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Jumat (10/2/2017). Lontong Tuyuhan berisi potongan lontong, daging ayam, dan kuah kuning (KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO)
Tak lengkap rasanya jika jalan-jalan tanpa mencicipi kulinernya.
Nah, Lasem punya beragam kuliner yang bisa dicoba dan dibawa pulang untuk oleh-oleh.
Jika kamu berkunjung ke Lasem, wajib coba Lontong Tuyuhan dan Sirup Kawista.
(TribunTravel.com/rizkytyas)

Lawang Ombo di Lasem, Jejak Sejarah Peredaran Opium Zaman Belanda

SEJARAH KOTA TUA LASEM (3)
Lawang Ombo di Lasem, Jejak Sejarah Peredaran Opium Zaman Belanda
Lawang Ombo yang berada di Desa Dasun, Kecamatan Lasem. Lawang Ombo, pada zaman Belanda sekitar tahun 1700 an merupakan gudang candu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)
Lawang Ombo yang berada di Desa Dasun, Kecamatan Lasem. Lawang Ombo, pada zaman Belanda sekitar tahun 1700 an merupakan gudang candu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)
MuriaNewsCom, Rembang – Banyak bangunan peninggalan Tiongkok lama di Lasem, Kabupaten Rembang. Salah satunya adalah Lawang Ombo (esk rumah candu). Rumah itu menyimpan misteri sekaligus menjadi saksi sejarah perdagangan dan peredaran opium di Jawa oleh warga Tionghoa kala itu.
Lawang Ombo, berada di Desa Dasun, Kecamatan Lasem. Letaknya hanya berjarak sekitar 100 meter dari Sungai Babagan. Di satu sudut ruangan terdapat semacam sumur berdiameter 70 sentimeter. Di dalamnya masih ada genangan air. Siapa sangka, sumur ini ternyata pernah menjadi jalur utama penyelundupan opium.
“Di dalam sumur ada terowongan yang menghubungkan ke laut. Terowongan itu cukup untuk jalur sampan kecil yang mengangkut opium,” ujar Gandor Sugiharto Santoso, Pengawas Tempat Ibadah Tri Darma kepada MuriaNewsCom, Kamis (15/12/2016).
Menurutnya, pada zaman itu, Sungai Babagan merupakan jalur utama perdagangan dari lepas pantai Rembang. Setelah rumah, tidak ada jalan selain sungai. Namun, kedatangan penjajah Belanda membuat tata ruang waktu tiu berubah. Belanda membuat dermaga di lepas Pantai Rembang, dan membuat jalan di depan Lawang Ombo.
Praktik penyelundupan opium kala itu cukup mudah. Sampan kecil dibawa masuk ke terowongan. Lalu ada orang bersiap di atas sumur dan mengangkuti opium dengan kayu satu per satu. Kala itu, banyak modus untuk menyelundupkan opium.
Lawang Ombo, katanya, dulunya dibangun oleh dua kakak beradik dari Tionghoa yaitu Tong Kay dan Tong Day. Tidak dapat secara pasti kapan bangunan tersebut berdiri. Namun, diperkirakan sekitar tahun 1700 an.
Oleh keduanya, bangunan tersebut dipergunakan sebagai gudang candu yang didatangkan dari China yang diselundupkan melalui sungai Lasem. Karena Sungai Lasem sangat penting sebagai transportasi serta masuknya barang-barang dari luar, maka pada saat itu Belanda sebagai pihak yang menguasai Lasem, menjaga ketat sungai tersebut.
Untuk mengelabui penjaga Belanda, orang-orang pekerja pribumi suruhan Tionghoa menggunakan kapal kecil dan memasukkan candu ke dalam peti mati untuk kemudian di selundupkan di lubang di bibir sungai dekat dengan Lawang Ombo yang terintegrasi dengan lubang yang ada di Bangunan Lawang Ombo.
Lawang ombo sangat penting pada waktu itu, karena dari sinilah candu di simpan untuk selanjutnya di sebarkan ke daerah selatan pulau Jawa seperti Magelang, Pati, Cirebon dan lain sebagainya.
“Sebenarnya ketika itu Belanda melakukan pengawasan ketat terhadap peredaran opium. Namun yang mengherankan, kenapa seolah tempat tersebut aman sebagai gudang candu. Bisa saja, ketika itu Belanda memanfaatkan hal ini, sebagai upaya untuk mengadu domba antara pribumi dan China. Maka ada semacam kelonggaran,” pungkasnya

SEJARAH BATIK LASEM

Menurut buku Pararaton & buku Negara Kertagama, Majapahit terdiri dari 11 kerajaan kecil yang salah satunya adalah LASEM & diperintah oleh seorang Adipati. Adipati Lasem menduduki jabatan penting sebagai Penasehat Raja dalam “Lembaga Pertimbangan Kerajaan”. Kerajaan Lasem memiliki pelabuhan yang berlokasi di Caruban & ditunjang dengan galangan kapal terbesar di P. Jawa (di Ds. Dasun).
Pada tahun 1335 Saka (1413 M), datanglah Bi Nang Un dalam rombongan Laksamana Cheng Ho. Melihat kesuburan, kemakmuran, keramahan & jiwa kekeluargaan masyarakat Lasem (ditambah banyaknya orang-orang Cempa yang hidup & mempunyai keturunan disana), Bi Nang Un meminta ijin menetap di Lasem.
Adipati Lasem (Pangeran Wijayabadra) mengijinkan Bi Nang Un tinggal. Bi Nang Un menjemput keluarganya dan membawa barang-barang yang belum ada di P. Jawa. Awalnya Bi Nang Un tinggal di Kemandung. Di tempat inilah NaLiNi memberi pelajaran cara membuat dompet dari bulu merak, tari menari dan membatik. Inilah cikal bakal pembuatan batik tulis Lasem….
Keberadaan batik Lasem tidak terlepas dengan sejarah kedatangan Laksamana Cheng Ho pada tahun 1413. Dari buku Babat Lasem karangan Mpu Santri Badra pada tahun 1401 Saka (1479 M), kemudian ditulis ulang oleh R Panji Kamzah pada tahun 1858.  Dalam buku tersebut diriwayatkan bahwa anak buah kapal Dhang Puhawang Tzeng Ho dari Negara Tiong Hwa, Bi Nang Un dan istrinya Na Li Ni memilih menetap di Bonang setelah  di Bonang setelah melihat keindahan alam Jawa. Keindahan ini telah membuat hati suami-istri itu menikmati.
Nama suami Ni Li Ni ini, sekarang diabadikan dengan nama salah satu desa yang disebut dengan desa Biangun. Di tempat baru ini, Na Li Ni membatik dengan motif ornament burung hong, liang, bunga seruni, banji, dan mata uang. Warna batik faforitnya adalah warna khas daratan Cina  atau Tiong Hwa, yaitu merah darah ayam/getih pithik (bahasa Jawa ). Warna ni menjadi cirri khas batik Lasem. Warna abang getih pithik ini dihasilkan dari pewarna alam yaitu dari warna akar pohon mengkudu (pace). Warna merah yang khas ini telah menarik minat pembatik dari daerah-daerah lain untuk melakukan proses pewarnaan  atau pencelupan  untuk warna tersebut di Lasem. Bahkan ada batik yang terkenal dengan Batik Tiga Negeri, yang proses pewarnaannya dilakukan di tiga daerah yaitu untuk proses pewarnaan sogan dilakukan di Solo, proses pewarnaan merah di Lasem dan proses pewarnaan biru dilakukan di Pekalongan.

Desa Ngemplak Lasem dan Malam Pusaka Desa Ngemplak

Desa Ngemplak Lasem
Ngemplak adalah sebuah desa di pinggir Pantura Lasem. Keberadaan Desa Ngemplak tidak terlepas dari sejarah militer Belanda pada masa penjajahan. Hal ini tidak hanya dibuktikan melalui cerita sesepuh yang pernah mengalami masa penjajahan, melainkan peninggalan tempat dan bangunan yang saat ini masih tersisa.
Banyak peninggalan bangunan Cina pada masa kolonial di Jalan KH Baidoi. Selain itu, sejarah nama dari patihan merupakan nama lokasi yang memakai nama salah satu jabatan menteri dari panca mentri, yaitu Rakriyan Patih. Lokasi petilasan yang memakai nama salah satu jabatan menteri yang bertugas memimpin dan mengawasi jalannya pemerintahan yang dilaksanakan para menteri pada abad XIV. Sekarang, petilasan tersebut merupakan tanah pertanian dan pernah ditemukan pula Arca Anjing.
Kurangnya perhatian masyarakat setempat dan pemerintah, nama Desa Ngemplak sebagai bagian sejarah dunia hampir terlupakan. Sejarah yang merupakan peristiwa penting pun tak lagi diingat. Jangankan diingat umum, masyarakat Desa Ngemplak sendiri pun tak pernah mengenal sejarah tempat mereka. Peninggalan yang harusnya dilestarikan dan dipromosikan sebagai bahan ilmu pengetahuan tak lagi dirasa penting.
Seringnya, cerita sesepuh yang menggambarkan peristiwa kala itu membuat tertarik anak-anak desa. Dahulu, MAN Lasem di Desa Ngemplak pinggir pantura Jalan Sunan Bonang merupakan tempat orang-orang pribumi yang pandai dan sakti. Mereka dikumpulkan di sana, disiksa, dan ditahan sampai mereka mati tanpa diberi makan dan minum oleh kelompok kolonial. Bahkan, sumur yang kononnya angker di MAN Lasem tersebut merupakan peninggalan penjajahan Belanda.
Peta yang dibuat oleh MK. Destreg memperkuat bahwa Ngemplak bagian sejarah yang tak mampu kita abaikan. Hal ini menunjukkan bahwa tahun 1877 Desa Ngemplak merupakan pangkalan militer Belanda.
Pada 17 september 2016, pemuda Desa Ngemplak, lebih tepatnya para anggota Karang Taruna Ira Adhimukti, melaksanakan malam pusaka yang bertujuan untuk memperkenalkan sejarah Ngemplak terhadap warga Desa Ngemplak itu sendiri dan masyarakat umum. Acara tersebut bekerja sama dengan para komunitas, di antaranya BHRE Lasem, Rumah Baca Pamotan, LCHS, RHS, dan Komunitas Pelestari Pusaka Dasun.
Dengan adanya dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, pengenalan sejarah tersebut berjalan dengan lancar diselingi dengan hiburan-hiburan. Harapannya adalah masyarakat tidak hanya mengenal dan mengetahui sejarah yang ada di tempat mereka tinggal. Tetapi, mereka mampu bekerja sama untuk melestarikan dan menjaga aset-aset peninggalan sejarah negeri tercinta ini. Sebab, kita tidak dapat disebut cinta Tanah Air jika kita tidak menghargai sejarah.
***
Ditulis oleh: Nugraeni Saputri Nur Hidayah